Senin, 26 Desember 2016

Sejarah Koran Harian Nasional

Koran Harian Nasional

Tipe Surat kabar harian

Format Koran

Pemimpin redaksi Makhfudz Sappe

Didirikan 31 Agustus 2013

Pusat Jakarta

Situs web www.harnas.co

Harian Nasional adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Jakarta, Indonesia . Surat kabar ini diterbitkan oleh PT Berita Nasional. Koran ini pertama kali terbit tahun 2013. Koran ini umumnya memberitakan tentang hiburan, nasional, olahraga dan masih banyak lagi.

Biasa dikenal juga dengan nama HarNas, merupakan koran nasional yang memiliki tagline DINAMIS DAN MENCERAHKAN. Koran ini merupakan media di bawah jaringan Lion Air Media Group, dimana isi dari berita yang dibawakan selalu dinamis dan mencerahkan bagi yang membacanya, inilah sebabnya Koran Harian Nasional (HarNas) ini memiliki perkembangan pembaca yang cukup cepat dalam waktu yang singkat. Ini juga dikarenakan distribusinya yang sangat luas, yakni nasional menjangkau berbagai wilayah di berbagai pulau di Indonesia yang sangat luas ini.

Koran Harian Nasional memiliki profil konten yang beragam diantaranya :

UMUM, yang mengulas tentang peristiwa teraktual yang terjadi di Indonesia di berbagai bidang, antara lain politik, kenegaraan, hukum, sosial, kemasyarakatan hingga tokoh-tokoh dalam keseharian kehidupan masyarakat Indonesia. Juga menyertakan opini para ahli di bidangnya.

EKONOMI, membahas tentang situasi keadaan, fenomena hingga kiat di bidang ekonomi makro, mikro, perbankan, investasi, perdagangan dan industri hingga sektor koperasi dan usaha kecil menengah.

SPORTS, reportase menarik berbagai cabang olah raga hingga isu-isu aktual sports lainnya, nasional maupun internasional.

GAYA HIDUP, menyajikan berbagai artikel dan foto menarik tentang traveling, pariwisata, heritage, fenomena gaya hidup, hotel resort, dan tempat menarik lainnya, fashion, kuliner, gadget hingga shopping.

Koran Harian Nasional (HarNas) ini memiliki oplah cetak sebanyak : 40.000 EKSEMPLAR PER HARI, dimana memiliki pembaca dan penyebarannya pada : onboard di seluruh rute pesawat Lion Air, Batik Air, Wings Air, Malindo Air (Malaysia), juga di berbagai airport sekitar 70 kota di Indonesia, pembaca yang umum (berlangganan), juga pada pick up point seperti di restoran, hotel dan cafe, selain itu juga disebarkan di berbagai kantor-kantor pemerintah.

Koran HARIAN NASIONAL (HarNas) merupakan koran umum bisnis, sports, gaya hidup. Yang terkenal secara luas karena memiliki keunggulan yakni : Lebih cepat dibaca dari kota hingga pulau-pulau, serta lebih luas cakupannya melintasi Indonesia, Singapura, dan Malaysia.



Untuk info pemasangan iklan di Koran Harian Nasional,

Silakan hubungi : 021-5436 1493, 081399808066.

Email : marketing@doremindo.com



Sabtu, 24 Desember 2016

A R T I K E L

                                                    Wajah Ruang Dunia Usaha yang Fleksibel

Ilustrasi: Google


      Sejatinya para pemuda adalah tolak ukur utama untuk kemajuan sebuah bangsa. Di era Reformasi seperti sekarang, para pemuda khususnya mahasiswa haruslah ikut berperan dalam perubahan negeri ini. Berperan bukan hanya berarti maju paling depan menjadi seorang pahlawan atau bahkan relawan yang berbaris di muka gedung istana megah para pejabat, sambil kedua tangan memegang kertas suara kemanusiaan. Aksi nyatalah yang dibutuhkan oleh negeri ini, berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang ada, itu lebih membantu untuk mencapai cita-cita kesejahteraan  bangsa dan negara. Generasi muda juga merupakan generasi harapan bangsa. Pernyataan ini akan sangat membanggakan bagi masyarakat Indonesia apabila dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, fakta membuktikan bahwa generasi muda di Indonesia saat ini cenderung mengkhawatirkan akan nasib bagi kelanjutan masa depannya bahkan berefek kepada masa depan bangsanya sendiri. seperti halnya kasus mahasiswa-mahasiswa yang lulus dengan membawa gelar S1 namun satu hari dua hari set
elahnya bingung menghadapi kehidupan yang nyata, bingung mencari kerja kemana, beradu nasib ke kota apa, bahkan tidak sedikit para lulusan S1 terlintas dalam benaknya untuk membuka usaha, namun pasti modal awal yang selalu menjadi kambing hitam. Dan akhirnya fenomena ‘pengangguran’ semakin tahun terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Kasus seperti inilah yang sudah sangat familiar pada wajah bumi pertiwi ini dan harus segera di hapuskan.

    Kendati demikian letak permasalahan ini tidak sepenuhnya salah mahasiswa-mahasiswa pemegang gelar S1 atau setaranya. Justru kesalahan ini terletak pada pola pikir dan gaya hidup para mahasiswa yang kurang diolah sedemikian unik. Tidak sedikit dari mereka saat masih kuliah sudah mempersiapkan segala rencana untuk masa depannya. Namun mirisnya mereka tidak pernah melakukan rencana itu, tidak ada sama sekali aksi nyatanya. Dan lebih mirisnya lagi setelah rencana itu tak kunjung menjadi nyata alhasil rencana yang disusun sedemikian rapi hanya menjadi tempelan kertas yang usang. Menurut Bob Sadino dalam buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino” orang yang berpikir lateral tidak memerlukan rencana yang sangat matang. Orang lateral akan berjalan, segera melakukan, dan menuai hasil yang mungkin diluar dugaan orang kebanyakan. Maka dari fenomena seperti inilah lahir generasi-generasi penerus bangsa yang hanya mengandalkan sebuah ijazah.

    Pikiran saya pun terbuka luas saat mengikuti acara seminar pendidikan dengan tema “Kiprah Pemuda Dalam Menciptakan Ruang Usaha Dunia Pendidikan”, sebagai mahasiswa saya dan teman-teman yang hadir pada saat itu pun ikut berpikir keras, lalu apa yang harus kami lakukan sebagai mahasiswa setelah sarjana? Dan apa peran negara dalam menyukseskan para penerus bangsanya? Dalam seminar ini saya menemukan jawabannya.

Penjelasan dari Taryadi S.S selaku pemateri pertama, beliau mengajak para mahasiswa sebelum lulus sarjana harus mampu berkiprah dalam dunia usaha, khususnya dunia pendidikan. Dari penjelasannya bahwa dunia usaha melalui pendidikan tidaklah memakan banyak tenaga, hanya bermodalkan kepintaran dan kemauan saja bahkan dunia usaha melalui pendidikan pun tidak menyita banyak waktu yang kita miliki, serta jika kita betul-betul berkiprah didalamnya tak hanya materi yang kita dapat, keberkahan pun kita dapatkan karena telah menyalurkan berbagai ilmu yang kita cari selama duduk di bangku perkuliahan. Menurutnya, dengan melihat keadaan dunia usaha seperti di kota Bandung, hampir 90% perusahaan yang berdiri dikuasai oleh orang Cina, maka dikatakannya kita harus berpikir kritis untuk kedepannya dalam membuat sebuah dunia usaha.

Dalam kenyataannya, banyak mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam telah membuka sebuah dunia usaha pendidikan yakni PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang menampung dan mengajar penduduk-penduduk yang putus sekolah. Dalam kegiatannya semua yang berkecimpung dalam dunia usaha tersebut di gaji oleh pemerintah dinas pendidikan. Seperti pengelolanya mendapatkan hasil Rp.1000.000 per bulan, untuk guru Rp. 400.000 per bulan, bahkan siswa nya pun di gaji Rp. 1000.000 perbulan. Adapun cara untuk mengelolanya hanya dengan menyewa sebuah kosan yang cukup untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, lalu mengumpulkan sejumlah warga dari berbagai usia yang putus sekolah, dan terakhir komunikasikan kepada pihak setempat, seperti Kepala Desa untuk menindak lanjutinya.

Hakikatnya untuk menciptakan kesuksesan dalam sebuah usaha khususnya dalam dunia pendidikan, jangan banyak bermimpi tapi banyak bergerak. Karena jika kita sudah serius dalam menekuninya, akan sampailah kita pada titik pencerahan, bahwa kita mampu menciptakan ruang usaha dunia pendidikan, apapun itu bentuknya.

    Dadang Husein sebagai pemateri kedua juga menitik beratkan pada pesannya bahwa walaupun pemerintah telah menyiapkan segala hal untuk para pengangguran atau penduduk yang belum mendapatkan lahan pekerjaan, akan lebih baik jika kita mempersiapkan mental kita terlebih dahulu yakni menanamkan dalam diri kita jiwa kewirusahaan. Karena mengingat lahan pekerjaan yang lebih sedikit dibandingkan dengan angka pertumbuhan angkatan kerja yang terus meningkat setiap tahunnya, khususnya di kota Bandung.

    Dipaparkan pula oleh Dadang Husein disamping mempersiapkan mental yang kuat, sejatinya membentuk dunia usaha juga harus memberikan peluang kepada setiap individu untuk mencapai potensi diri sepenuhnya. Dengan mengubah paradigma seperti adanya perubahan mental, belajar menjadi pemimpin serta menghilangkan kebiasaan berkeluh kesah, itu semua dapat menjadi kunci utama menuju pembentukan ruang usaha dengan sukses.

Maka dari sekian banyak hembusan kata-kata para pemateri diatas, saya berpendapat bahwa sejatinya dengan menerapkan dan mengamalkan ilmu kita kedalam ruang usaha dunia pendidikan tidak hanya materi yang didapat namun keberkahan ilmu pun didapat sepanjang massa.

Fenomena pengangguran merajalela semata-mata bukanlah kesalahan siapa-siapa, hanya saja pola pikir dan tingkah laku yang sejak dini belum terukir cantik untuk mampu menata masa depan yang lebih cerah.

Tuntutlah ilmu sebaik mungkin, itu saja sudah bisa membantu mengindahkan negeri ini sebagai pemuda. Jangan jadikan ijazah yang sulit diraih itu hanya menjadi penutup kepala saat berdesak-desakkan dibawah terik matahari, mengantri untuk diwawancara demi sebuah pekerjaan yang mengikat waktu masing-masing tidak adanya fleksibelitas. Karena hakikatnya membentuk dunia usaha dalam dunia pendidikan memiliki penghargaan lebih ketimbang usaha-usaha lainnya.



CERBUNG - Cerita Bersambung atau Gak Nyambung?


Masjid di Ujung Senja

Oleh:

Natia Istianah
(Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Manakala hati telah menunggu lama sosok yang dicintai, jikalau bertemu apa rasa itu tetap sama? Dan jikalau waktu yang berkhianat tetap tidak bisa kau berjumpa dengannya, apa kau akan tetap setia mencari atau justru kau akan berbalik arah melupakannya?

***

 Seorang lelaki dengan butiran keringat yang menggantung diwajah serta baju lusuh yang melekat ditubuh, pasti membuat mata para wanita enggan untuk melirik kepadanya. Ya lelaki itu, adalah aku. Laki-laki dengan kesibukan berjualan donat ditambah dunia perkuliahan yang ingin segera aku sudahi. Akupun lelaki yang berlabelkan marbot masjid sejati di kelas, karena dari segelintir teman-teman yang pernah menjadi marbot, aku lah yang paling lama menjabatinya.

Dengan tergopoh-gopoh langkahku lebih dipercepat kala temaram akan menjemput senja yang sedari tadi menunggunya. Awan sore yang setia menaungiku memang bersahaja, dan lebih hangat jika perjalanan ini ditemani seorang teman. Seketika diperjalanan perutku beradu suara didalamnya, berebut sapaan dariku dan bahkan suara teriakannya sampai menggodaku untuk sekedar berhenti dipersimpangan jajanan kaki lima. “ayolah perut, jangan kau bising seperti ini, tahan sebentar lagi” gumamku dalam hati.

Tubuh yang sudah melemas, langkah yang semakin melambat dengan sabar menghantarkanku sampai ke tempat bangunan tua nan suci, atapnya yang  selalu dikelilingi suara merdu, serta seluruh lantainya yang selalu menjadi persimpuhan para anak cucu Adam. Inilah tempat berteduhku sekaligus tempat ibadahku sedari kecil. Walau tempat ini sering dikerumuni hamba-hamba-Nya, namun keramaian itu hanya sesaat, waktu selalu membiarkanku sendiri bersama dingin dan heningnya malam.

Masjid Senja yang selalu ku sebut namanya. Masjid ini memang terlihat lebih indah jika senja tiba. Spektrum cahayanya yang bermain cantik membuat kesan para mata manusia. Aku tak tahu mengapa aku suka menyebutnya dengan nama itu. Apa hanya karena aku pecinta senja? Entahlah.  

Di keheningan dan kekhusukan mematrikan hati, aku tenggelam dalam kesahajaan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, walau suara perut terus berdentum, aku tetap terbawa hanyut dalam irama ayat-ayat suci-Nya. Sungguh suaranya membuat hati damai dan mengundang aku untuk beranjak mencari sumbernya. Ketika aku keluar dari sepetak kamar dekat serambi masjid, sepasang mataku langsung menemukan sosok seorang kakek di sudut ruang masjid, ternyata dari sanalah sumber suara merdu itu. Sambil menunggu waktu adzan tiba, aku pun mendekati kakek itu, “Assalamu’alaikum abah dari mana, sepertinya saya tidak pernah lihat abah sebelumnya?” tanyaku pelan.

“abah numpang istirahat dulu ya dik, jualan abah belum laku semua, sekalian abah nunggu adzan” jawabnya sambil memperbaiki kain sorban yang melingkari lehernya.

“tentu boleh abah, ini bukan rumahku, tapi rumah Allah, tempat ini terbuka untuk para hamba-Nya” Jawabku tersenyum.

“Allahu Akbar… Allaaaaahu Akbar…” suara adzan berkumandang.

“Alhamdulillah adzan dik,” ucapnya sambil mengambil sebotol air minum dan sekotak kue di balik badannya.

“abah puasa?” tanyaku pelan

“iya … ini ambil kue nya”.

“wah terimakasih bah, seharusnya saya yang menjamu abah, jadi malu hehe” gumamku sambil tertawa kecil.

“hahaha, tadikan dik sendiri yang bilang, ini bukan rumahmu, lalu mengapa kamu harus menjamu saya? Makanlah, dan habiskan. Setelah selesai sholat, saya ingin tanya-tanya tentang sekitar daerah ini.”

“baik abah, terimakasih untuk kuenya.” jawabku tersipu malu.


Selama mata ku menerawang kakek ini, sepertinya ia orang kaya. Terlihat dari wajah dan badannya yang bersih terawat, sekaligus bajunya yang bermerk dan sekotak kue yang terbilang mahal. Tapi aneh, ia sampai ke masjid hanya bertemankan sebuah gerobak tua yang berisikan setumpuk gorengan. Tapi apa mungkin hanya aku saja yang salah menilai? Ah, entahlah, intinya aku sedang dihadapkan banyak pertanyaan tentang kakek ini, asalnya dari mana, mengapa bisa sampai kemari, dan masih banyak lagi pertanyaan yang ingin aku tanyakan dengannya.

Waktu Qomat pun menghampiri …

Seusai solat maghrib, seperti biasa aku merenung sejenak, bukan karna aku banyak pikiran. Namun satu pikiranku sedari kecil yang tak pernah terjawab oleh semua orang yang kudatangi. Hadirku di dunia ini hanya bertemankan sepi, aku seperti tokoh kartun Hachi, dengan julukan ‘sebatang kara’. Sejak kecil aku di asuh oleh sosok wanita yang baik hatinya di panti asuhan “Cahaya Cinta” tempat itu berada di tempat terpencil dan kumuh, wanita itu merawatku tanpa keluh kesah, merawatku dengan ikhlas dihatinya, aku yakin itu. Walau sering kali aku bertanya dari mana asalku, dia tak pernah menjawabnya. Dia hanya memberiku titik terang bahwa aku tak punya seorang ibu dan ayah. Katanya aku sama seperti bayi-bayi yang diceritakan di sinetron-sinetron lawas, bahwa aku adalah bayi yang terbuang. Awalnya ku kira, sosok wanita yang selalu ku sebut ibu adalah ibu kandungku, ternyata bukan. Wanita itu bernama Mawar, dialah ibu angkatku. Kini umurnya yang tua membuat dirinya tak bisa banyak melakukan aktifitas, kesendirian yang me
njadi teman setia, karena ketiga anaknya yang sudah merantau dan memiliki istri, membuat anak-anak angkatnya selalu ingin datang kerumahnya hanya untuk sekedar bercengkrama, termasuk aku. Aku anak angkat lelaki satu-satunya yang diberi nama Damar oleh ibu Mawar. Dia pernah menghantarkan tidurku dengan sebuah cerita, bahwa nama Damar yang kumiliki bukanlah seperti lampu damar yang kusam tak terurus dan hanya ada ditempat gelap. Justru dia menasihatiku bahwa aku haruslah menjadi seorang Damar, yang berarti pelita dikala gelap, memberikan cahaya untuk siapapun yang membutuhkannya. Memutar ulang kenangan ini, membuatku rindu pada ibu angkatku.

“hei dik, assalamu’alaikum” teriak seorang kakek tepat ditelingaku.

“eh abah, astaghfirullah, maaf bah saya gak fokus hehe” kataku terkejut

“masih muda jangan banyak melamun, gak baik buat kesahatan, hehe. Di masjid ini kau sendiri saja? Tidak ada teman ? oh ya namamu siapa nak?” tanyanya akrab

“oh ya abah, perkenalkan nama saya Damar, saya di masjid ini sendiri saja, dulu pernah ada seorang teman yang menemani tapi sudah meninggal. Ngomong-ngomong abah kesini seperti ada yang dicari, kalau boleh tahu, ada perlu apa bah?

 “innalillahi, semoga kau tak kesepian ya nak, sebenarnya saya sedang mencari kenalan saya dulu, maksudnya teman sejak kecil bukan siapa-siapa loh, saya sadar umur hehe.” Candanya.

“hahaha abah ini ya, cari siapa bah dan abah ini dari mana? Teman abah itu namanya siapa? Mungkin lebih baik esok lagi saja, sekarang sudah malam”

“benar katamu nak Damar, sepertinya besok saja saya mencarinya, sekarang saya mau pulang”

“abah, saya hantar saja ya, sekalian saya jalan-jalan menghirup udara malam”

“wah boleh sekali nak Damar, kebetulan gerobak ini berat sekali, saya baru kali ini membawanya, boleh ya saya repotkan?” tanyanya penuh canda.

“hahaha, oke siap bah, memangnya abah baru pertama kali jualan?” tanyaku heran

“sudah… ayo kita berangkat”

    Diperjalanan yang penuh dengan gelak tawa, aku merasa memiliki sosok ayah yang bersahaja. Candanya yang selalu menggelitik diriku untuk tertawa tak henti-hentinya ia lontarkan. Namun baru kali ini, aku mendapati sosok yang begitu misterius. Sebenarnya kakek tua ini siapa?

Sesampainya di tempat tujuan, kakek ini malah mengajakku untuk masuk ke dalam rumah yang sangat mewah. Semakin bingung saja pikiranku ini.

“Ayo masuk jangan sungkan”

Kakek yang sudah akrab ku panggil abah ini mempersilahkan masuk kedalam rumah yang megah. Banyak foto-foto keluarganya yang ia gantung dengan rapi, dan sepertinya kakek ini memiliki keluarga yang sangat bahagia, seketika hatiku  tersentuh dan tak sadar aku meneteskan air mata. Sungguh malang nasibku, tak ada sanak family yang merangkul sungguh aku sangat kasihan dengan diriku sendiri.

“Damar.. kamu kenapa?”

Untuk kesekian kalinya aku dikagetkan lagi oleh suara kakek ini.

“eh abah, maaf gak kenapa-kenapa. Ngomong-ngomong bah, keluarga abah yang ada di foto ini tinggal dirumah ini juga?”

“hmmm…. Yaaah… mereka tinggal bersama saya disini, dan mereka tidak pernah meninggalkan saya sendirian di rumah ini, tapi semenjak kecelakaan yang merenggut jiwa mereka dalam satu waktu, membuat saya kesepian, membuat saya terpukul dan tak lagi punya siapa-siapa” jawabnya sambil tertunduk.

“astaghfirullah maaf bah, tidak bermaksud saya mengundang kesedihan”

“tidak apa-apa nak, kejadian itu sudah terlampau lama sekitar 20 tahun yang lalu. Dan dari tragedi kecelakaan itu, saya kehilangan seorang cucu saya …

Bersambung

























 Sekilas Tentang ku

Namaku Natia Istianah, lebih akrab dipanggil Nanat.

Lahir di Kuningan, Jawa Barat 10 November 1996. Kini, sedang melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung.

Membaca tentang sastra, menyanyi, listen the music adalah hobiku yang sudah mendarah daging.

CP : 0896-2062-5076 , via line @zardi_sastra



C E R P E N Dikejar Waktu


Pemuda Masjid
Oleh :
Natia Istianah
(Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Baju lusuh yang melekat, kering kerontang tubuh namun berdiri tegak. Walau usia tua telah lama menemani sosok mbah yai penjaga masjid ternama di kotanya. Ia selalu bersemangat dalam kegiatan apapun. Seolah usia muda masih digenggamnya.
Awan sore yang menemani benar-benar mencuri perhatian mbah yai. Kepalanya mendongak, menikmati hiasan langit yang telah disediakan-Nya. Lanjut tangan kanannya sibuk bergerilya mencari nomor rak sepasang sepatu milik orang lain untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Walau pekerjaan ini terbilang biasa saja, namun terlihat luar biasa ketika bibir sang mbah yai tak hentinya melantunkan ayat suci Al-Quran. Baginya ayat-ayat-Nya adalah udara kesejukan bagi kehidupan dirinya.
Saat temaram telah menjemput senja bergantikan langit gelap. Terdapat sosok pemuda berpakaian compang camping tak karuan yang setiap hari mendatangi masjid ini, ia menduduki lantai serambi masjid dengan kaki terbuka dan penuh tanah. Mbah yai hanya terdiam, memasang wajah datar melihat tingkah laku pemuda itu dengan kedua tangan memegang boneka lusuh. Karena tidak mempermasalahkannya, mbah yai dengan syahdu melanjutkan lantunan ayat suci al-Quran.
Brrraaak!!!!
Mbah yai tercengang, sepasang matanya langsung mencari sumber suara, dan menoleh kearah tempat sampah.
“yaampun kamu ini kenapa hei pemuda” kakinya langsung beranjak mendekati sosok pemuda yang menjatuhkan tong sampah besar. Dilihatnya, sampah berserakan kesekitar serambi masjid, dan mengeluarkan aroma tak sedap. Pemuda itu hanya terdiam dan memasang wajah takutnya.
“kamu lapar? Jangan makan daging busuk ini. kamu akan keracunan nantinya, lalu sakit, merepotkan orang sekitar, dan ujungnya kau mati. Tak berarti sekali hidupmu.” Mbah yai pun mengeluarkan amarah yang tak tertahankan, karena selain menjadi penjaga rak sepatu masjid, ia pun sesekali menjadi cleaning service di halaman masjid yang terbilang luas. Mungkin karena lelah yang menyelimuti, ia meluapkan amarahnya.
“Astaghfirullah.. kenapa aku marah-marah kepada orang yang tak mengerti apa yang aku ucapkan. Ampuni hamba yaAllah, semoga hatinya tak terluka.”
Keesokan harinya dengan kegiatan yang berbeda, mbah yai mendapat giliran menjadi cleaning service. Walaupun pekerjaannya tak mendapat upah yang tetap, namun karena rasa cinta yang penuh, dan rasa penghambaan kepada Allah teramat dalam, ia lakukan semua dengan ikhlas.
Lantai masjid yang selalu menjadi tempat persimpuhan para anak cucu Adam ia bersihkan seluruhnya, tak luput sepasang ramping tangannya menjamahi dinding masjid yang terlampau lembab ia bersihkan pula.
Kala kepalanya mendongak ke arah sawang langit masjid, ia melihat kembali sosok pemuda kemarin dengan baju lusuhnya berdiri lemah di lantai teratas.
“Hei pemuda!!! Hei!!!”
Teriakan tetap menjadi jeritan bisu jika tertuju hanya untuk orang pengidap sakit jiwa. Jangankan teriakan, panggilan saja dia tak paham bahkan tak tahu dirinya itu siapa dan disahut dengan panggilan apa. Dengan rasa cemas, mbah yai tergopoh-gopoh melangkahkan kaki ke lantai tiga, lantai teratas masjid. Ia mendapati si pemuda berguling-guling kesana kemari di dalam masjid.
“yaAllah … kenapa kau lagi? Disini tempat suci, kau harus….”
Belum selesai berbicara, pemuda itu dengan datarnya tak menghiraukan celoteh sang marbot masjid , kitab-kitab suci Al-Quran yang menumpuk dihadapannya, seketika memberhentikan langkah santai si pemuda.
“jangan sentuh itu!” perilaku tegas dan cepat tanggap mbah yai membuat si pemuda ketakutan. Namun mbah yai sendiri tak menghiraukannya. Dengan tangkas tangan ramping nan keriput mbah yai menarik tangan si pemuda dengan cepat.
Dibawa si pemuda itu ke lantai dasar. Kerumunan orang yang melihat mereka berdua langsung mengambil jarak, karena merasa jijik terhadap si pemuda dengan pakaian lusuh dan bau tak sedap yang menyerbak.
Arrrggghhhh…. Arrgghhh….
Jeritan beriring tangis si pemuda tak henti-hentinya mengundang penasaran para pengunjung masjid.
“Bismillah, saya lakukan ini karena Allah” kedua tangan marbot masjid pun mulai bergerak cepat keseluruh badan yang kurus si pemuda. Dibersihkannya si pemuda dari kotoran-kotoran yang entah asalnya dari mana. Dilepaskannya segala macam bau yang menempel ditubuhnya. Rasa ikhlas yang penuh di hati sang marbot karena kasihan melihat tingkah lakunya, membuat haru tangis dirinya sendiri.
***

Kabar siluet dari seorang pemulung sekitar, dahulu si pemuda adalah seorang anak dari ayah dan ibu yang tamak akan hartanya. Mereka juga tidak memperbolehkan si pemuda pergi mengaji bersama kawannya. Tindak kekerasan yang dialami oleh si pemuda membuat si pemuda stress dan mengalami gangguan jiwa. Namun  Nasib malang yang dialami si pemuda kini berakhir ketika Allah telah mempertemukan dirinya dengan mbah yai sang marbot masjid yang selalu ikhlas menerima apapun. Dirawatnya si pemuda oleh mbah yai dengan rasa ikhlas dan sabar. Tak luput juga diberi namalah si pemuda dengan nama Pemuda Shaleh. Kini si pemuda mengabdikan dirinya di masjid bersama mbah yai yang sudah terlampau tua. Baginya mbah yai adalah malaikat yang harus ia jaga sepenuh hati.
            Tak ada lagi celaan yang menghakimi hidupnya, dunia seakan tersenyum bersamanya dalam keadaan apapun.
“mbah.. terimakasih telah merasa iba kepada Uda, kalaulah Uda tak bertemu dengan mbah, Uda pasti masih seperti dia” sambil menunjuk ke arah orang yang nasibnya sama seperti dia yang dahulu.
“Uda, dengarkan mbah, ini semua semata-mata hati mbah di sentuh oleh Allah dank au harus ingat semua ini karena Allah. Semua sudah direncanakan sedemikian indahnya, bersyukurlah kau masih diselamatkan”
***
            Setelah bertahun-tahun lamanya kini masjid tempat pengabdian si pemuda tak hanya menjadi masjid yang megah akan bangunannya. Tapi kaya akan esensi yang terkandung di dalam masjidnya.
            Ketika mata terjatuh di arah timur masjid, dibangunlah oleh Pemuda Shaleh, bangunan khusus untuk para pemuda yang ingin mengabdikan dirinya pada masjid. Setiap tahun Pemuda selalu diundang untuk menjadi pembicara seminar keislaman dimasjid-masjid ternama.
“kalaulah saya bisa hidup seribu tahun lebih lama lagi, saya ingin lebih mengabdikan diri untuk agama Allah di masjid ini bersama mbah” tuturnya mengundang tangis pilu para jamaahnya.
***

Jumat, 23 Desember 2016

R E P O R T A S E

Kiprah Pemuda Dalam Dunia Usaha Pendidikan


 
Bandung - Pengantar Ilmu Jurnalistik, salah satu mata kuliah program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) yang diampu oleh Dudi Rustandi, M.I.Kom. mengadakan Ujian Akhir Semester (UAS) dengan cara berbeda. yakni diadakannya seminar pendidikan di rumah makan Ampera jalan Soekarno Hatta, Rabu (14/12).

Pemuda selain hanya menuntut ilmu, haruslah mampu menciptakan dunia usaha yang dapat menanamkan modal awalnya untuk di kemudian hari.  Melalui Seminar Pendidikan  dengan tema “Kiprah Pemuda Dalam Menciptakan Ruang Usaha Dunia Pendidikan” pemateri pertama Taryadi S.S menegaskan, mahasiswa harus mampu mengubah pola pikir yang selama ini masih banyak berorientasi mencari kerja atau mejadi pegawai. Artinya selesai kuliah, mereka sibuk mencari pekerjaan, bukan menciptakan lapangan pekerjaan atau bahkan justru lulus kuliah mereka dihadapkan dengan kebingungan.

“Pola pikir seperti itu seharusnya sudah diubah, karena di luar sana masih banyak peluang yang dapat dimanfaatkan oleh para lulusan universitas atau perguruan tinggi, karena pada nantinya pesaing di dunia kerja bukan hanya mahasiswa UIN, namun seluruh mahasiswa Indonesia” ucap Taryadi S.S, mahasiswa S2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Seminar yang dihadiri oleh kisaran 40 mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung tampak antusias dan berjalan dengan lancar. Seminar bertambah hidup dengan adanya pemateri kedua yang memaparkan bahwa agar bisa menjadi seorang entrepreneur, khususnya mahasiswa harus mampu merubah paradigma.

“untuk menjadi seorang entrepreneur coba dimulai dari merubah paradigma diri masing-masing seperti bertanggung jawab, belajar menjadi mahasiswa yang baik, belajar menjadi pemimpin, minimal bisa menjadi pemimpin untuk diri sendiri” ucap Dadang Husein, yang pernah mengenyam pendidikan nonformal diklatin 2006.

Hakikatnya membentuk dunia usaha dalam dunia pendidikan memiliki penghargaan lebih ketimbang usaha-usaha lainnya, dengan mengubah pola pikir sejak dini menjadi salah satu tolak ukur untuk merubah masa depan yang lebih baik.

Reporter: Natia Istianah.