Sabtu, 24 Desember 2016

A R T I K E L

                                                    Wajah Ruang Dunia Usaha yang Fleksibel

Ilustrasi: Google


      Sejatinya para pemuda adalah tolak ukur utama untuk kemajuan sebuah bangsa. Di era Reformasi seperti sekarang, para pemuda khususnya mahasiswa haruslah ikut berperan dalam perubahan negeri ini. Berperan bukan hanya berarti maju paling depan menjadi seorang pahlawan atau bahkan relawan yang berbaris di muka gedung istana megah para pejabat, sambil kedua tangan memegang kertas suara kemanusiaan. Aksi nyatalah yang dibutuhkan oleh negeri ini, berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang ada, itu lebih membantu untuk mencapai cita-cita kesejahteraan  bangsa dan negara. Generasi muda juga merupakan generasi harapan bangsa. Pernyataan ini akan sangat membanggakan bagi masyarakat Indonesia apabila dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, fakta membuktikan bahwa generasi muda di Indonesia saat ini cenderung mengkhawatirkan akan nasib bagi kelanjutan masa depannya bahkan berefek kepada masa depan bangsanya sendiri. seperti halnya kasus mahasiswa-mahasiswa yang lulus dengan membawa gelar S1 namun satu hari dua hari set
elahnya bingung menghadapi kehidupan yang nyata, bingung mencari kerja kemana, beradu nasib ke kota apa, bahkan tidak sedikit para lulusan S1 terlintas dalam benaknya untuk membuka usaha, namun pasti modal awal yang selalu menjadi kambing hitam. Dan akhirnya fenomena ‘pengangguran’ semakin tahun terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Kasus seperti inilah yang sudah sangat familiar pada wajah bumi pertiwi ini dan harus segera di hapuskan.

    Kendati demikian letak permasalahan ini tidak sepenuhnya salah mahasiswa-mahasiswa pemegang gelar S1 atau setaranya. Justru kesalahan ini terletak pada pola pikir dan gaya hidup para mahasiswa yang kurang diolah sedemikian unik. Tidak sedikit dari mereka saat masih kuliah sudah mempersiapkan segala rencana untuk masa depannya. Namun mirisnya mereka tidak pernah melakukan rencana itu, tidak ada sama sekali aksi nyatanya. Dan lebih mirisnya lagi setelah rencana itu tak kunjung menjadi nyata alhasil rencana yang disusun sedemikian rapi hanya menjadi tempelan kertas yang usang. Menurut Bob Sadino dalam buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino” orang yang berpikir lateral tidak memerlukan rencana yang sangat matang. Orang lateral akan berjalan, segera melakukan, dan menuai hasil yang mungkin diluar dugaan orang kebanyakan. Maka dari fenomena seperti inilah lahir generasi-generasi penerus bangsa yang hanya mengandalkan sebuah ijazah.

    Pikiran saya pun terbuka luas saat mengikuti acara seminar pendidikan dengan tema “Kiprah Pemuda Dalam Menciptakan Ruang Usaha Dunia Pendidikan”, sebagai mahasiswa saya dan teman-teman yang hadir pada saat itu pun ikut berpikir keras, lalu apa yang harus kami lakukan sebagai mahasiswa setelah sarjana? Dan apa peran negara dalam menyukseskan para penerus bangsanya? Dalam seminar ini saya menemukan jawabannya.

Penjelasan dari Taryadi S.S selaku pemateri pertama, beliau mengajak para mahasiswa sebelum lulus sarjana harus mampu berkiprah dalam dunia usaha, khususnya dunia pendidikan. Dari penjelasannya bahwa dunia usaha melalui pendidikan tidaklah memakan banyak tenaga, hanya bermodalkan kepintaran dan kemauan saja bahkan dunia usaha melalui pendidikan pun tidak menyita banyak waktu yang kita miliki, serta jika kita betul-betul berkiprah didalamnya tak hanya materi yang kita dapat, keberkahan pun kita dapatkan karena telah menyalurkan berbagai ilmu yang kita cari selama duduk di bangku perkuliahan. Menurutnya, dengan melihat keadaan dunia usaha seperti di kota Bandung, hampir 90% perusahaan yang berdiri dikuasai oleh orang Cina, maka dikatakannya kita harus berpikir kritis untuk kedepannya dalam membuat sebuah dunia usaha.

Dalam kenyataannya, banyak mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam telah membuka sebuah dunia usaha pendidikan yakni PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang menampung dan mengajar penduduk-penduduk yang putus sekolah. Dalam kegiatannya semua yang berkecimpung dalam dunia usaha tersebut di gaji oleh pemerintah dinas pendidikan. Seperti pengelolanya mendapatkan hasil Rp.1000.000 per bulan, untuk guru Rp. 400.000 per bulan, bahkan siswa nya pun di gaji Rp. 1000.000 perbulan. Adapun cara untuk mengelolanya hanya dengan menyewa sebuah kosan yang cukup untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, lalu mengumpulkan sejumlah warga dari berbagai usia yang putus sekolah, dan terakhir komunikasikan kepada pihak setempat, seperti Kepala Desa untuk menindak lanjutinya.

Hakikatnya untuk menciptakan kesuksesan dalam sebuah usaha khususnya dalam dunia pendidikan, jangan banyak bermimpi tapi banyak bergerak. Karena jika kita sudah serius dalam menekuninya, akan sampailah kita pada titik pencerahan, bahwa kita mampu menciptakan ruang usaha dunia pendidikan, apapun itu bentuknya.

    Dadang Husein sebagai pemateri kedua juga menitik beratkan pada pesannya bahwa walaupun pemerintah telah menyiapkan segala hal untuk para pengangguran atau penduduk yang belum mendapatkan lahan pekerjaan, akan lebih baik jika kita mempersiapkan mental kita terlebih dahulu yakni menanamkan dalam diri kita jiwa kewirusahaan. Karena mengingat lahan pekerjaan yang lebih sedikit dibandingkan dengan angka pertumbuhan angkatan kerja yang terus meningkat setiap tahunnya, khususnya di kota Bandung.

    Dipaparkan pula oleh Dadang Husein disamping mempersiapkan mental yang kuat, sejatinya membentuk dunia usaha juga harus memberikan peluang kepada setiap individu untuk mencapai potensi diri sepenuhnya. Dengan mengubah paradigma seperti adanya perubahan mental, belajar menjadi pemimpin serta menghilangkan kebiasaan berkeluh kesah, itu semua dapat menjadi kunci utama menuju pembentukan ruang usaha dengan sukses.

Maka dari sekian banyak hembusan kata-kata para pemateri diatas, saya berpendapat bahwa sejatinya dengan menerapkan dan mengamalkan ilmu kita kedalam ruang usaha dunia pendidikan tidak hanya materi yang didapat namun keberkahan ilmu pun didapat sepanjang massa.

Fenomena pengangguran merajalela semata-mata bukanlah kesalahan siapa-siapa, hanya saja pola pikir dan tingkah laku yang sejak dini belum terukir cantik untuk mampu menata masa depan yang lebih cerah.

Tuntutlah ilmu sebaik mungkin, itu saja sudah bisa membantu mengindahkan negeri ini sebagai pemuda. Jangan jadikan ijazah yang sulit diraih itu hanya menjadi penutup kepala saat berdesak-desakkan dibawah terik matahari, mengantri untuk diwawancara demi sebuah pekerjaan yang mengikat waktu masing-masing tidak adanya fleksibelitas. Karena hakikatnya membentuk dunia usaha dalam dunia pendidikan memiliki penghargaan lebih ketimbang usaha-usaha lainnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar