Jumat, 09 Desember 2016

Artikel-Nat


Jasad Sebuah Makna Kebhinnekaan

Indonesia yang heterogen selama ini menjadi sebuah identitas negara kita tercinta, sebuah keberagaman yang selama ini terjaga apik, namun kini raganya kebhinnekaan  telah terusik oleh sebuah pemahaman yang sedikit rumit.
            “Bhinneka Tunggal Ika” berbeda-beda tetapi tetap satu jua, semboyan yang gagah terpampang pada Garuda Pancasila, mestinya tak hanya menjadi kiasan semata. Kebhinnekaan yang menjadi landasan dasar Negara Indonesia seharusnya dapat memperkukuh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merangkul segala aspek perbedaan yang ada melalui pemahaman multikulturalisme dengan berlandaskan kekuatan spiritualitas.
Lagi-lagi spiritualisme menjadi bumbu perpecah belahan yang kian panas di Indonesia. Baku hantam antar sesamanya tak lagi asing terjadi di bumi pertiwi ini. Sorak sorai lelucon kasar mejadi perbincangan asik bagi mereka yang hatinya tumpul akan perdamaian. Padahal jelaslah sudah, seluruh agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia tidak pernah memberikan ruang sedikitpun untuk terjadinya kekerasan. Kondisi seperti inilah yang nantinya akan memperkikis rasa toleransi terhadap kebhinnekaan dan kedamaian bangsa.
Sejatinya, jikalau kita semua menghayati akan keberadaanya negeri ini. Maka, hati kita akan merasakan sungguh indahnya keberagaman dalam peradaban, heterogen dalam kebudayaan, dan segala bentuk perbedaan yang faktanya menjadi warna dalam negeri ini. 
Perbedaan etnis, religi, maupun ideologi merupakan bagian yang tidak akan pernah terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Dengan bersenjatakan Bhinneka Tunggal Ika dan toleransi yang menjunjung tinggi, inilah alat perekat, pemersatu untuk bersatunya Indonesia dalam kemajemukan bangsa.
Indonesia ini terlalu indah untuk dibandingkan dengan yang lain. Beribu pulau yang berdiri kokoh, bentangan alam yang indah permai, deburan ombak serupa nyanyian alam, dan beragam suku yang menjadi warnanya. Semua ini tak akan kita temui indahnya laksana seperti di rumah kita sendiri, Indonesia.
Mulailah untuk menutup serapat mungkin kesalah pahaman yang  membuat redupnya rasa persaudaraan. Jangan ada lagi gerakan yang ingin memecah belah bangsa, mengadu domba dengan provokasi dan isu SARA yang ingin mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa
Sejatinya, warga Negara Indonesia adalah keturunan patriot dan ksatria sejati yakni tidak pernah takut dan hidup bertoleransi. Maka, hidupkanlah kembali Bhinneka Tunggal Ika, jangan dikubur tertumpuk rasa dengki antar satu sama lain menjadi jasad yang tak hidup lagi.

Natia Istianah                                               
Mahasiswa Himpunan Nalar dan Intelektual, Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar