Sabtu, 24 Desember 2016

C E R P E N Dikejar Waktu


Pemuda Masjid
Oleh :
Natia Istianah
(Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Baju lusuh yang melekat, kering kerontang tubuh namun berdiri tegak. Walau usia tua telah lama menemani sosok mbah yai penjaga masjid ternama di kotanya. Ia selalu bersemangat dalam kegiatan apapun. Seolah usia muda masih digenggamnya.
Awan sore yang menemani benar-benar mencuri perhatian mbah yai. Kepalanya mendongak, menikmati hiasan langit yang telah disediakan-Nya. Lanjut tangan kanannya sibuk bergerilya mencari nomor rak sepasang sepatu milik orang lain untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Walau pekerjaan ini terbilang biasa saja, namun terlihat luar biasa ketika bibir sang mbah yai tak hentinya melantunkan ayat suci Al-Quran. Baginya ayat-ayat-Nya adalah udara kesejukan bagi kehidupan dirinya.
Saat temaram telah menjemput senja bergantikan langit gelap. Terdapat sosok pemuda berpakaian compang camping tak karuan yang setiap hari mendatangi masjid ini, ia menduduki lantai serambi masjid dengan kaki terbuka dan penuh tanah. Mbah yai hanya terdiam, memasang wajah datar melihat tingkah laku pemuda itu dengan kedua tangan memegang boneka lusuh. Karena tidak mempermasalahkannya, mbah yai dengan syahdu melanjutkan lantunan ayat suci al-Quran.
Brrraaak!!!!
Mbah yai tercengang, sepasang matanya langsung mencari sumber suara, dan menoleh kearah tempat sampah.
“yaampun kamu ini kenapa hei pemuda” kakinya langsung beranjak mendekati sosok pemuda yang menjatuhkan tong sampah besar. Dilihatnya, sampah berserakan kesekitar serambi masjid, dan mengeluarkan aroma tak sedap. Pemuda itu hanya terdiam dan memasang wajah takutnya.
“kamu lapar? Jangan makan daging busuk ini. kamu akan keracunan nantinya, lalu sakit, merepotkan orang sekitar, dan ujungnya kau mati. Tak berarti sekali hidupmu.” Mbah yai pun mengeluarkan amarah yang tak tertahankan, karena selain menjadi penjaga rak sepatu masjid, ia pun sesekali menjadi cleaning service di halaman masjid yang terbilang luas. Mungkin karena lelah yang menyelimuti, ia meluapkan amarahnya.
“Astaghfirullah.. kenapa aku marah-marah kepada orang yang tak mengerti apa yang aku ucapkan. Ampuni hamba yaAllah, semoga hatinya tak terluka.”
Keesokan harinya dengan kegiatan yang berbeda, mbah yai mendapat giliran menjadi cleaning service. Walaupun pekerjaannya tak mendapat upah yang tetap, namun karena rasa cinta yang penuh, dan rasa penghambaan kepada Allah teramat dalam, ia lakukan semua dengan ikhlas.
Lantai masjid yang selalu menjadi tempat persimpuhan para anak cucu Adam ia bersihkan seluruhnya, tak luput sepasang ramping tangannya menjamahi dinding masjid yang terlampau lembab ia bersihkan pula.
Kala kepalanya mendongak ke arah sawang langit masjid, ia melihat kembali sosok pemuda kemarin dengan baju lusuhnya berdiri lemah di lantai teratas.
“Hei pemuda!!! Hei!!!”
Teriakan tetap menjadi jeritan bisu jika tertuju hanya untuk orang pengidap sakit jiwa. Jangankan teriakan, panggilan saja dia tak paham bahkan tak tahu dirinya itu siapa dan disahut dengan panggilan apa. Dengan rasa cemas, mbah yai tergopoh-gopoh melangkahkan kaki ke lantai tiga, lantai teratas masjid. Ia mendapati si pemuda berguling-guling kesana kemari di dalam masjid.
“yaAllah … kenapa kau lagi? Disini tempat suci, kau harus….”
Belum selesai berbicara, pemuda itu dengan datarnya tak menghiraukan celoteh sang marbot masjid , kitab-kitab suci Al-Quran yang menumpuk dihadapannya, seketika memberhentikan langkah santai si pemuda.
“jangan sentuh itu!” perilaku tegas dan cepat tanggap mbah yai membuat si pemuda ketakutan. Namun mbah yai sendiri tak menghiraukannya. Dengan tangkas tangan ramping nan keriput mbah yai menarik tangan si pemuda dengan cepat.
Dibawa si pemuda itu ke lantai dasar. Kerumunan orang yang melihat mereka berdua langsung mengambil jarak, karena merasa jijik terhadap si pemuda dengan pakaian lusuh dan bau tak sedap yang menyerbak.
Arrrggghhhh…. Arrgghhh….
Jeritan beriring tangis si pemuda tak henti-hentinya mengundang penasaran para pengunjung masjid.
“Bismillah, saya lakukan ini karena Allah” kedua tangan marbot masjid pun mulai bergerak cepat keseluruh badan yang kurus si pemuda. Dibersihkannya si pemuda dari kotoran-kotoran yang entah asalnya dari mana. Dilepaskannya segala macam bau yang menempel ditubuhnya. Rasa ikhlas yang penuh di hati sang marbot karena kasihan melihat tingkah lakunya, membuat haru tangis dirinya sendiri.
***

Kabar siluet dari seorang pemulung sekitar, dahulu si pemuda adalah seorang anak dari ayah dan ibu yang tamak akan hartanya. Mereka juga tidak memperbolehkan si pemuda pergi mengaji bersama kawannya. Tindak kekerasan yang dialami oleh si pemuda membuat si pemuda stress dan mengalami gangguan jiwa. Namun  Nasib malang yang dialami si pemuda kini berakhir ketika Allah telah mempertemukan dirinya dengan mbah yai sang marbot masjid yang selalu ikhlas menerima apapun. Dirawatnya si pemuda oleh mbah yai dengan rasa ikhlas dan sabar. Tak luput juga diberi namalah si pemuda dengan nama Pemuda Shaleh. Kini si pemuda mengabdikan dirinya di masjid bersama mbah yai yang sudah terlampau tua. Baginya mbah yai adalah malaikat yang harus ia jaga sepenuh hati.
            Tak ada lagi celaan yang menghakimi hidupnya, dunia seakan tersenyum bersamanya dalam keadaan apapun.
“mbah.. terimakasih telah merasa iba kepada Uda, kalaulah Uda tak bertemu dengan mbah, Uda pasti masih seperti dia” sambil menunjuk ke arah orang yang nasibnya sama seperti dia yang dahulu.
“Uda, dengarkan mbah, ini semua semata-mata hati mbah di sentuh oleh Allah dank au harus ingat semua ini karena Allah. Semua sudah direncanakan sedemikian indahnya, bersyukurlah kau masih diselamatkan”
***
            Setelah bertahun-tahun lamanya kini masjid tempat pengabdian si pemuda tak hanya menjadi masjid yang megah akan bangunannya. Tapi kaya akan esensi yang terkandung di dalam masjidnya.
            Ketika mata terjatuh di arah timur masjid, dibangunlah oleh Pemuda Shaleh, bangunan khusus untuk para pemuda yang ingin mengabdikan dirinya pada masjid. Setiap tahun Pemuda selalu diundang untuk menjadi pembicara seminar keislaman dimasjid-masjid ternama.
“kalaulah saya bisa hidup seribu tahun lebih lama lagi, saya ingin lebih mengabdikan diri untuk agama Allah di masjid ini bersama mbah” tuturnya mengundang tangis pilu para jamaahnya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar