Sabtu, 24 Desember 2016

CERBUNG - Cerita Bersambung atau Gak Nyambung?


Masjid di Ujung Senja

Oleh:

Natia Istianah
(Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Manakala hati telah menunggu lama sosok yang dicintai, jikalau bertemu apa rasa itu tetap sama? Dan jikalau waktu yang berkhianat tetap tidak bisa kau berjumpa dengannya, apa kau akan tetap setia mencari atau justru kau akan berbalik arah melupakannya?

***

 Seorang lelaki dengan butiran keringat yang menggantung diwajah serta baju lusuh yang melekat ditubuh, pasti membuat mata para wanita enggan untuk melirik kepadanya. Ya lelaki itu, adalah aku. Laki-laki dengan kesibukan berjualan donat ditambah dunia perkuliahan yang ingin segera aku sudahi. Akupun lelaki yang berlabelkan marbot masjid sejati di kelas, karena dari segelintir teman-teman yang pernah menjadi marbot, aku lah yang paling lama menjabatinya.

Dengan tergopoh-gopoh langkahku lebih dipercepat kala temaram akan menjemput senja yang sedari tadi menunggunya. Awan sore yang setia menaungiku memang bersahaja, dan lebih hangat jika perjalanan ini ditemani seorang teman. Seketika diperjalanan perutku beradu suara didalamnya, berebut sapaan dariku dan bahkan suara teriakannya sampai menggodaku untuk sekedar berhenti dipersimpangan jajanan kaki lima. “ayolah perut, jangan kau bising seperti ini, tahan sebentar lagi” gumamku dalam hati.

Tubuh yang sudah melemas, langkah yang semakin melambat dengan sabar menghantarkanku sampai ke tempat bangunan tua nan suci, atapnya yang  selalu dikelilingi suara merdu, serta seluruh lantainya yang selalu menjadi persimpuhan para anak cucu Adam. Inilah tempat berteduhku sekaligus tempat ibadahku sedari kecil. Walau tempat ini sering dikerumuni hamba-hamba-Nya, namun keramaian itu hanya sesaat, waktu selalu membiarkanku sendiri bersama dingin dan heningnya malam.

Masjid Senja yang selalu ku sebut namanya. Masjid ini memang terlihat lebih indah jika senja tiba. Spektrum cahayanya yang bermain cantik membuat kesan para mata manusia. Aku tak tahu mengapa aku suka menyebutnya dengan nama itu. Apa hanya karena aku pecinta senja? Entahlah.  

Di keheningan dan kekhusukan mematrikan hati, aku tenggelam dalam kesahajaan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, walau suara perut terus berdentum, aku tetap terbawa hanyut dalam irama ayat-ayat suci-Nya. Sungguh suaranya membuat hati damai dan mengundang aku untuk beranjak mencari sumbernya. Ketika aku keluar dari sepetak kamar dekat serambi masjid, sepasang mataku langsung menemukan sosok seorang kakek di sudut ruang masjid, ternyata dari sanalah sumber suara merdu itu. Sambil menunggu waktu adzan tiba, aku pun mendekati kakek itu, “Assalamu’alaikum abah dari mana, sepertinya saya tidak pernah lihat abah sebelumnya?” tanyaku pelan.

“abah numpang istirahat dulu ya dik, jualan abah belum laku semua, sekalian abah nunggu adzan” jawabnya sambil memperbaiki kain sorban yang melingkari lehernya.

“tentu boleh abah, ini bukan rumahku, tapi rumah Allah, tempat ini terbuka untuk para hamba-Nya” Jawabku tersenyum.

“Allahu Akbar… Allaaaaahu Akbar…” suara adzan berkumandang.

“Alhamdulillah adzan dik,” ucapnya sambil mengambil sebotol air minum dan sekotak kue di balik badannya.

“abah puasa?” tanyaku pelan

“iya … ini ambil kue nya”.

“wah terimakasih bah, seharusnya saya yang menjamu abah, jadi malu hehe” gumamku sambil tertawa kecil.

“hahaha, tadikan dik sendiri yang bilang, ini bukan rumahmu, lalu mengapa kamu harus menjamu saya? Makanlah, dan habiskan. Setelah selesai sholat, saya ingin tanya-tanya tentang sekitar daerah ini.”

“baik abah, terimakasih untuk kuenya.” jawabku tersipu malu.


Selama mata ku menerawang kakek ini, sepertinya ia orang kaya. Terlihat dari wajah dan badannya yang bersih terawat, sekaligus bajunya yang bermerk dan sekotak kue yang terbilang mahal. Tapi aneh, ia sampai ke masjid hanya bertemankan sebuah gerobak tua yang berisikan setumpuk gorengan. Tapi apa mungkin hanya aku saja yang salah menilai? Ah, entahlah, intinya aku sedang dihadapkan banyak pertanyaan tentang kakek ini, asalnya dari mana, mengapa bisa sampai kemari, dan masih banyak lagi pertanyaan yang ingin aku tanyakan dengannya.

Waktu Qomat pun menghampiri …

Seusai solat maghrib, seperti biasa aku merenung sejenak, bukan karna aku banyak pikiran. Namun satu pikiranku sedari kecil yang tak pernah terjawab oleh semua orang yang kudatangi. Hadirku di dunia ini hanya bertemankan sepi, aku seperti tokoh kartun Hachi, dengan julukan ‘sebatang kara’. Sejak kecil aku di asuh oleh sosok wanita yang baik hatinya di panti asuhan “Cahaya Cinta” tempat itu berada di tempat terpencil dan kumuh, wanita itu merawatku tanpa keluh kesah, merawatku dengan ikhlas dihatinya, aku yakin itu. Walau sering kali aku bertanya dari mana asalku, dia tak pernah menjawabnya. Dia hanya memberiku titik terang bahwa aku tak punya seorang ibu dan ayah. Katanya aku sama seperti bayi-bayi yang diceritakan di sinetron-sinetron lawas, bahwa aku adalah bayi yang terbuang. Awalnya ku kira, sosok wanita yang selalu ku sebut ibu adalah ibu kandungku, ternyata bukan. Wanita itu bernama Mawar, dialah ibu angkatku. Kini umurnya yang tua membuat dirinya tak bisa banyak melakukan aktifitas, kesendirian yang me
njadi teman setia, karena ketiga anaknya yang sudah merantau dan memiliki istri, membuat anak-anak angkatnya selalu ingin datang kerumahnya hanya untuk sekedar bercengkrama, termasuk aku. Aku anak angkat lelaki satu-satunya yang diberi nama Damar oleh ibu Mawar. Dia pernah menghantarkan tidurku dengan sebuah cerita, bahwa nama Damar yang kumiliki bukanlah seperti lampu damar yang kusam tak terurus dan hanya ada ditempat gelap. Justru dia menasihatiku bahwa aku haruslah menjadi seorang Damar, yang berarti pelita dikala gelap, memberikan cahaya untuk siapapun yang membutuhkannya. Memutar ulang kenangan ini, membuatku rindu pada ibu angkatku.

“hei dik, assalamu’alaikum” teriak seorang kakek tepat ditelingaku.

“eh abah, astaghfirullah, maaf bah saya gak fokus hehe” kataku terkejut

“masih muda jangan banyak melamun, gak baik buat kesahatan, hehe. Di masjid ini kau sendiri saja? Tidak ada teman ? oh ya namamu siapa nak?” tanyanya akrab

“oh ya abah, perkenalkan nama saya Damar, saya di masjid ini sendiri saja, dulu pernah ada seorang teman yang menemani tapi sudah meninggal. Ngomong-ngomong abah kesini seperti ada yang dicari, kalau boleh tahu, ada perlu apa bah?

 “innalillahi, semoga kau tak kesepian ya nak, sebenarnya saya sedang mencari kenalan saya dulu, maksudnya teman sejak kecil bukan siapa-siapa loh, saya sadar umur hehe.” Candanya.

“hahaha abah ini ya, cari siapa bah dan abah ini dari mana? Teman abah itu namanya siapa? Mungkin lebih baik esok lagi saja, sekarang sudah malam”

“benar katamu nak Damar, sepertinya besok saja saya mencarinya, sekarang saya mau pulang”

“abah, saya hantar saja ya, sekalian saya jalan-jalan menghirup udara malam”

“wah boleh sekali nak Damar, kebetulan gerobak ini berat sekali, saya baru kali ini membawanya, boleh ya saya repotkan?” tanyanya penuh canda.

“hahaha, oke siap bah, memangnya abah baru pertama kali jualan?” tanyaku heran

“sudah… ayo kita berangkat”

    Diperjalanan yang penuh dengan gelak tawa, aku merasa memiliki sosok ayah yang bersahaja. Candanya yang selalu menggelitik diriku untuk tertawa tak henti-hentinya ia lontarkan. Namun baru kali ini, aku mendapati sosok yang begitu misterius. Sebenarnya kakek tua ini siapa?

Sesampainya di tempat tujuan, kakek ini malah mengajakku untuk masuk ke dalam rumah yang sangat mewah. Semakin bingung saja pikiranku ini.

“Ayo masuk jangan sungkan”

Kakek yang sudah akrab ku panggil abah ini mempersilahkan masuk kedalam rumah yang megah. Banyak foto-foto keluarganya yang ia gantung dengan rapi, dan sepertinya kakek ini memiliki keluarga yang sangat bahagia, seketika hatiku  tersentuh dan tak sadar aku meneteskan air mata. Sungguh malang nasibku, tak ada sanak family yang merangkul sungguh aku sangat kasihan dengan diriku sendiri.

“Damar.. kamu kenapa?”

Untuk kesekian kalinya aku dikagetkan lagi oleh suara kakek ini.

“eh abah, maaf gak kenapa-kenapa. Ngomong-ngomong bah, keluarga abah yang ada di foto ini tinggal dirumah ini juga?”

“hmmm…. Yaaah… mereka tinggal bersama saya disini, dan mereka tidak pernah meninggalkan saya sendirian di rumah ini, tapi semenjak kecelakaan yang merenggut jiwa mereka dalam satu waktu, membuat saya kesepian, membuat saya terpukul dan tak lagi punya siapa-siapa” jawabnya sambil tertunduk.

“astaghfirullah maaf bah, tidak bermaksud saya mengundang kesedihan”

“tidak apa-apa nak, kejadian itu sudah terlampau lama sekitar 20 tahun yang lalu. Dan dari tragedi kecelakaan itu, saya kehilangan seorang cucu saya …

Bersambung

























 Sekilas Tentang ku

Namaku Natia Istianah, lebih akrab dipanggil Nanat.

Lahir di Kuningan, Jawa Barat 10 November 1996. Kini, sedang melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung.

Membaca tentang sastra, menyanyi, listen the music adalah hobiku yang sudah mendarah daging.

CP : 0896-2062-5076 , via line @zardi_sastra



Tidak ada komentar:

Posting Komentar