Jumat, 23 Desember 2016

Feature


Di Balik Layar Kegiatan Seminar


Hawa panas terik matahari kala itu mencucuk tulangku saat tubuh terasa lemah, lorong kerongkongan kering belum sempat terbasahi oleh sedikit air minum, dan yang lebih fatalnya lagi, si perut yang terus beradu suara didalamnya, berebut sapaan dariku dan bahkan suara teriakannya sampai menggodaku untuk sekedar berhenti di kantin persimpangan kampus tercinta Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Kendati demikian, hasrat itu aku tahan sementara, karena aku dan teman-teman program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) kelas C, akan mengikuti seminar pendidikan, bertempat di rumah makan Ampera jalan Soekarno Hatta, yang diadakan oleh seorang dosen handal dengan mata kuliahnya Pengantar Ilmu Jurnalistik.

Dudi Rustandi, M.I.Kom. selain menjadi dosen handal dalam berbagai kegiatan ‘kepenulisan’ beliau juga mengelola berbagai blogger, salah satunya http://abahraka.com. Dosen lulusan Universitas Padjadjaran ini juga pernah menjadi bagian dari redaksi majalah Sarjana Kewirusahaan Diskop dan UKM Jawa Barat, serta masih banyak lagi pengalaman luar biasa yang telah beliau lalui.

Dari seusai mata kuliah jam pertama, aku dan teman-teman dengan semangat yang menggebu-gebu dikumpulkan oleh KOSMA di depan kampus tercinta, disatukan dengan tujuan yang sama, namun dipisahkan oleh angkutan-angkutan umum berwarna hijau, jurusan Cicadas-Cibiru, yang terbilang kapasitas muatannya kecil. Karena begitu, muncullah celetukan seorang teman, ‘bang, dipisahnya jangan lama-lama ya, nanti kangen’.

source: jadwalangkot.com
Walau semua sudah dipersiapkan dan di kondisikan oleh KOSMA yang hebat dan tangguh, namun tetap saja ada segelintir teman kita yang telat sehingga memperpanjang waktu pemberangkatan. Bukan hal asing untuk didengar, jika dalam hal-hal seperti ini mayoritas kendalanya terjadi pada ‘wanita’. Mengapa bisa pada wanita? Karena, survey membuktikan 68% wanita selalu ingin hasratnya atau keinginan yang ada di dalam hatinya itu tersalurkan, dan banyak dari wanita itu ingin tampil di depan khalayak secara sempurna, atau memiliki sifat perfectionist. Seperti kejadian kemarin, terhambatnya pemberangkatan disebabkan ada yang lagi sibuk dengan bajunya, karena tidak matching sehingga dia harus pulang terlebih dahulu untuk mengganti kostum. Lalu, Ada yang mengadu nasib ke tukang Rosilor (Roti isi telor) terlebih dahulu, karena rasa lapar yang tak tertahankan. Dan wanita lainnya yang tidak termasuk kedalam sifat itu, hanya bisa menunggu dalam desakan orang-orang di angkot. Di dalam angkot ada saja gelak tawa yang merasuki keheningan suasana, ada yang sibuk dengan lipsticknya yang tak kunjung rapih, ada pula yang bermain garis dengan pensil alisnya yang tak kunjung simetris. Walaupun bermacam-macam kerusuhan yang ada pada diri teman-temanku, ini semua menjadi hiburan untukku pribadi di tengah kepenatan yang ada.

Di sepanjang perjalanan, kita menikmati jalan bandung yang tidak terlalu padat merayap. Karena mungkin, kita berangkat ketika jadwal kerjanya para pegawai, jadi jalan agak sedikit lengah untuk kita lewati.

Tidak sedikit teman-teman yang satu angkutan denganku, mempersiapkan berbagai hal untuk mengikuti kegiatan seminar ini, hal-hal yang dipersiapkan mencakup alatnya seperti pulpen, buku catatan, perekam suara, dan hal yang paling penting adalah mental kita pribadi, yang hakikatnya menjadi peserta sekaligus pendengar sejati.

Adanya Seminar Pendidikan ini dilaksanakan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester yang bersifat take home dan seminar ini juga di adakan dengan cara yang tak biasa,  adanya  ‘makan siang gratis’ yang disuguhkan oleh pihak pemateri membuat pesertanya tak berpikir dua kali untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Jarak antara kampus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ke tempat lokasi yakni rumah makan Ampera di jalan Soekarno Hatta. tidaklah memakan waktu yang sangat lama hanya berkisar lima belas menit untuk sampai kesana, itupun jika tidak terjebak macet.

Sesampainya di depan rumah makan Ampera sepasang mata para peserta seminar langsung tertuju pada spanduk yang telah di tempelkan diatas permukaan dinding lahan parkir, dan bertuliskan tema “Kiprah Pemuda dalam Menciptakan Ruang Usaha Dunia Pendidikan”


Ketika baru menginjakkan kaki pertama kali disana, tidak sedikit teman-temanku menikmati suasana yang sedemikian indahnya. Dimulai dari sepasang mata kita yang dimanjakan oleh hijaunya taman-taman yang luas, dan sekaligus cantiknya saung-saung yang berpencar dimana-mana. Rumah makan Ampera yang terkenal dengan masakan khas sundanya ini, hampir sempurna menyuguhkan para pengunjungnya dengan suasana khas sunda yang sangat kental.

Suasana yang indah sekaligus unik membuatku dan teman-teman yang hadir tidak ingin melewatkan momen menarik ini. semuanya tersebar kemana-mana mencari view yang bagus dan menarik untuk diambil gambarnya dan dijadikan momen.

Untuk para peserta Seminar Pendidikan diberikan tempat khusus, letaknya tepat ditengah-tengah taman, dan saungnya pun lebih luas dari saung-saung yang lain, mengingat jumlah peserta yang kurang lebih dari empat puluh orang.

Di saung tersebut telah hadir pak Dudi Rustandi, M.I.Kom. Lalu hadirnya pemateri satu, pak Taryadi S.S dan seorang moderator. Sambil menunggu kegiatan seminar yang sedang dipersiapkan, aku dan teman-teman yang hadir membuat barisan mengisi absen.

Di tengah-tengah keramaian saat mengisi absen, tidak jarang kegiatan ‘selfie’ menjelma seperti obat kegabutan atau kejenuhan kala sedang menunggu atau bahkan sedang kumpul-kumpul sekalipun. Karena kata ‘selfie’ begitu popupler, dikutip dari BBC news, Oxford menobatkan kata ini sebagai ‘Word of The Year’ pada tahun 2013. Sebenarnya selfie bukanlah hal baru. Foto Robert Cornelius pada tahun 1839 diyakini sebagai foto selfie pertama di dunia. Saat ini foto tersebut ditempatkan di Library of Congress, Washington. Banyak juga yang aku amati, mereka yang sedang berfoto melakukannya dengan gaya yang unik, biasa disebut ‘Duckface’ atau memonyongkan bibir agar terlihat seksi. Sungguh luar biasa efek dari media sosial. mengubah tingkah laku normal manusia menjadi sangat unik.

Pra kegiatan Seminar


Semua apa- apa yang telah aku jabarkan diatas, hanyalah sebatas cerita di balik layar untuk bisa dikenang pada hari yang akan dirindukan entah kapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar